Dua tubuh itu masih juga saling berdiam sejak tadi.
Padahal senja sudah bersiap meninggalkan mereka, sudah tak sabar untuk menggumuli si gelap malam.
Hasratnya menggila, meninggalkan merah dadu di semesta, menekan rasa hangat semakin dalam merangsak.

Si lelaki perlahan menyapu pipi perempuan itu dengan jemarinya.
Rasa hangat itu juga merangsak di hatinya, berlipat - lipat tanpa diduga.
Ribuan pertanyaan yang tadinya ada di sana terlindas seperti tikus di jalan raya, masih ada, tapi mungkin lebih baik dibiarkan mengering agar mudah dikelupas nantinya.
Untuk sementara memang agak mengganggu, tapi sepertinya lebih baik begitu.

Perempuan itu diam saja.
Matanya belum berkedip dari tadi, dan setiap detiknya seperti merekam lelaki itu dalam ingatannya, lalu dalam hatinya.
Merah dadu yang mengintip mereka dari balik tirai jendela tak sabar menunggu adegan selanjutnya.
Warnanya menorehkan nuansa pada permukaan kulit si lelaki, serupa citra cinta.

Mulut si lelaki masih rapat terkunci.
Jemarinyalah yang menggantikan kata - kata.
Setiap detik yang berganti adalah jeritan kerinduan dan ribuan pertanyaan.
Yang tersimpan rapi dalam bilik - bilik rahasianya, hingga entah kapan ia rela bagi.

Si perempuan menahan bibirnya tetap rapat.
Dalam dirinya berjejalan permintaan dan pertanyaan.
Yang sayangnya disembunyikan dalam gelap matanya.
Merah dadu membiarkan lembayung menyeruak.
Nuansa warna begitu sarat rasa, semakin menggoda dan bergelora.

Senja sudah tak sabar lagi.
Dibiarkannya gelap malam merayapi tubuhnya penuh nafsu.
Dibiarkannya tubuhnya yang kemerahan semakin terbakar asmara.
Hingga mereka melebur jadi satu.

Perempuan itu menghela napas.
Menatap si lelaki sebelum akhirnya merelakan kelopak matanya untuk mengerjap.
Si lelaki menggeser lengannya merapat dengan lengan si perempuan.
Ia sadar sebentar lagi perempuan ini akan beranjak.

"Jangan pergi sekarang."
Bisiknya, begitu dekat dengan telinga si perempuan.
Disandarkannya kepalanya pada leher si perempuan, mengunci geraknya.

"Waktunya memang nggak pernah tepat, kan?"
Lirih si perempuan, sebelum mengecup lembut ubun - ubun si lelaki dengan mesra.

"Kita tunggu sampai pagi."
Dengan cepat si lelaki membalas.

Si perempuan kembali menghela napas. Kali ini lebih panjang.
"Nggak bisa, sayang..."

Si lelaki mematung. Dihimpitnya si perempuan hingga posisi tubuh mereka berdua saling mengunci.
"Astaga. Siklus ini selalu berulang."

Si perempuan membisu
Pasrah, tak berkutik dalam ketakberdayaan hingga terasa perlahan matanya mulai basah.
Rasa hangat yang tadinya menelusur dengan menggebu perlahan meredup, seiring gelap malam yang melanda.
Hanya berat di hati masih menggeluti, sama dengan tubuh si lelaki.
Tapi saat rindu sudah terisi penuh dan sudah meluap, bagian berbenah memang selalu terasa susah.
Walaupun yang tertahan masih saja jadi beban dan belum juga sempat tumpah.
Masa sudah nyaris punah.

Si perempuan memeluk erat si lelaki.
Menghirup aroma tubuh yang digilainya itu, lalu perlahan bibirnya menyusuri kulit si lelaki.
Sebelum si lelaki menyambutnya dengan pagutan lembut yang digilainya.
Sebelum tangan mulai saling menggenggam dan tubuh kembali saling bertautan hingga terbakar dan melebur jadi satu.
Sebelum gelap malam berpamitan dan terang pagi datang untuk menihilkan segala.

Dan sampai itu tiba, mereka akan selalu saling mencari.
Hingga senja bergulir kembali, dan waktu berputar lagi.



About this entry