Perempuan itu menatap nanar cangkir kopinya.
Ini setengah kosong, atau setengah penuh?
Ia berkontemplasi, mencoba mengisi ulang pikirannya pelan - pelan.
Dijauhkannya cangkir kopi itu dari hadapannya.
Hanya beberapa teguk lagi saja, lalu tinggal ampas.
Hanya beberapa teguk lagi saja, tapi aroma kopi masih kuat merangsak di indera penciumannya.

Dia melirik telepon genggamnya di ujung meja.
5.30.
Tapi tak tampak sebersitpun oranye kemerahan yang disukainya di angkasa.
Semesta seperti sedang kecewa, seharian ini melimpahkan hujan bagai melimpahkan kemarahannya.
Angkasa menyiratnya dan menyiarkan kelabu ke segala penjuru.
Lakon tetesan hujan berkejaran sudah sejak tadi dimainkan melalui jendela bening yang ada.
Berkejaran dengan cepat, lalu saling bergumul, hingga terpecah tak tentu arah jika angin ikut ambil peran.
Perempuan itu menonton dalam diam.

Cuaca seperti ini seperti perangkap untuknya.
Membatasi ruang gerak pikirannya agar tidak kemana - mana.
Dan sejauh ia melempar sauh, tetap ke satu arah dia mengayuh.
Dikatupnya kelopak matanya erat, agar benaknya tetap di tempatnya.
Semakin dia berusaha menguncinya dengan rapat, semakin angin bertiup kencang dan meluluh lantak.
Gemuruh langit seperti beresonansi dalam hatinya.
Yang rindu, tapi juga pilu dan hampir beku.
Sayangnya hati cuma satu, pikirnya getir.

Denging mesin espresso menarik paksa perempuan itu dari atmosfir maya.
Dikerjapkannya matanya, ditatapnya jendela.
Masih saja hujan, dan dia masih tertahan di tempat itu.
Tapi perempuan itu justru mengulas senyum.
Yang dirasanya sekarang hanya rindu, tanpa setitikpun sendu.
Karena cuma satu yang ditunggu, untuk kembali bertemu.

Digenggamnya kembali cangkir kopinya.
Masih ada hangat disitu, mungkin kalau digenggam terus, sisa kopi yang ada di dalam masih pantas untuk disesap.
Mungkin cukup enak untuk membuatnya berpikir untuk menuang lagi kopi yang masih panas ke dalam cangkir ini.

Ditariknya telepon genggamnya dari ujung meja.
Jari - jarinya segera sibuk menekan tombol dengan cekatan satu persatu.
"Saya memikirkanmu, dan saya rindu garis - garis di ujung bibirmu saat kamu tersenyum dan tertawa."
Diunggahnya pesan tersebut ke sebuah nomor.
Lalu perempuan itu meletakkan telepon genggamnya dekat dengan sisi mejanya.

Sebentar lagi mungkin hujannya berhenti, sehingga ia bisa keluar dari sana dan cari taksi untuk pulang.
Kalaupun belum berhenti juga, ada payung kan?
Pikirnya jenaka.
Dirapatkannya jemarinya lekat - lekat pada cangkir kopinya.
Ah, hangat...



About this entry