document.body.ondragstart = "return false"; document.body.onselectstart = "return false";

Bangku kayu di taman.


"Jadi, kenapa kamu mengundangku ke sini?"
Tanya si perempuan.
Matanya fokus pada pohon akasia di dekat meja mereka.

"Aku ingin bertemu kamu. Apakah alasan itu tidak cukup?"
Jawab si lelaki, yang menatap lurus pada wajah si perempuan yang jelas resah.

"Setelah merentang waktu lama, mendadak kamu mengajak bertemu di bangku kayu di taman kota.
Yang bahkan kita tak pernah ada cerita. Kamu membuang - buang waktuku."
Jawab si perempuan, jengah.
Dia menghitung dedaunan yang perlahan mulai merontok.
Daun - daun yang kuning kecoklatan, melepaskan diri dengan gemulai dari pohon yang sudah renta tersebut.
Mereka memilih untuk menjalani nasibnya sendiri, mengikuti siulan angin yang mengajak mereka berdansa serta.

"Aku membuang waktumu. Juga waktuku."
Kata si lelaki lagi, pandangannya belum goyah.
Entah sudah berapa lama ia tidak melihat perempuan itu.
Entah apa yang bikin dia tidak mau melepaskan pandangannya dari si perempuan.
Seperti daun yang bebal walau sudah dihantam ribuan badai.

Perempuan itu berdiri, menarik tas tangannya dari hadapan.
Bersiap untuk melangkah pergi.
Didorongnya bangkunya ke belakang.
Namun tangan si lelaki juga sigap.
Mencengkeram tangan si perempuan, mendadak dan erat.

Keduanya terdiam.
Mereka biasa melakukan itu di ranjang.
Itu.
Mencengkeram, menggeram, merekam kebahagiaan yang sifatnya sementara.
Seakan masing - masing tahu bahwa porsi waktu yang diberikan hanya sedikit.
Waktu yang menggiring mereka ke garis perbatasan.
Antara nafsu semata dengan jatuh cinta.
Saat salah satu bimbang menentukan pilihan, yang lainnya terlanjur merubah haluan.
Upaya proteksi sekaligus kompensasi, dari rasa yang lama - lama jadi basi.

Si lelaki melepaskan tangannya.
"Aku tidak rela membiarkan kamu pergi."
Katanya.

Mata si perempuan tetap terpaku pada daun - daun kering yang bernyanyi.
Musik yang lirih, pedih, sedih, tapi mengapa mereka menyanyikannya dengan bahagia?
"Mari kita berpisah saja. Dan berjanji untuk tak akan bertemu lagi."
Katanya pelan.

"Tapi aku akan merindukanmu saat kau tak ada dalam pikiranku. Dan aku akan tetap mencarimu walau kau sudah tak mau."
Jawab si lelaki.
Ditariknya nafas yang panjang, lalu ia melanjutkan,
"Bolehkah jika aku minta kau untuk duduk kembali, bersamaku?
Tatap mataku beberapa detik saja.
Mata ini pernah menjelajah tubuh telanjangmu.
Juga sempat tak berkedip saat pertama melihat jendela jiwamu.
Genggam tanganku, sebentar saja.
Tangan ini pernah merengkuhmu, membelai rambutmu.
Beberapa kali menjagamu agar kau tak jatuh saat sedang rapuh."

Si perempuan terdiam.
Seakan berhenti pada sebuah tembok beton yang tinggi dan tak berujung.
Cinta selalu berbatasan.
Dengan nafsu, dengan kepentingan, dengan harapan, dengan kesombongan.
Dan saat ini, dengan kenangan.
"Aku tidak mau. Ini tidak akan ada ujungnya."

Buru - buru disentaknya kakinya agar cepat melangkah pergi.
Meninggalkan si lelaki sendiri, supaya tetap utuh harga diri.

Lima langkah mereka berjarak, si perempuan berhenti.
Berbalik.
Lelaki itu sudah tidak ada disana.

Dedaunan kering yang sejak tadi menyanyi dan menari di dekat mereka menggerumutinya.
Perempuan itu tersenyum.
Dipungutnya satu daun yang masih agak kehijauan, diremasnya dan lalu diciumnya aroma waktu yang tersisa.
"Sampai saatnya nanti, aku akan menemukanmu kembali."


Posted by soapgirlninja at 2:00 PM | in detail
10.00

Dia memejamkan matanya.
Berusaha untuk lenyap dalam alam tidur yang sudah dirancangnya sedemikian rupa.
Tubuh dan pikirannya sudah cukup lelah seharian itu.
Tapi kenapa susah sekali untuk jatuh terlelap dan terbebas?
Dia merutuk dalam hati, dan kelopak matanya kembali terbuka.

Gelap gulita.
Dia memang tidak pernah menyalakan penerangan apapun kalau sudah di tempat tidur.
Sunyi, senyap.
Dia menggeliat, berusaha mencapai telepon genggamnya.
Setengah jalan, diurungkannya niatnya.
Kembali dia berbaring horizontal. Rata.
Diam - diam dia berharap ada seseorang di sampingnya.
Mungkin jika ada orang itu, bisa direngkuhnya, bisa diciuminya, bisa diusapnya hingga ia jatuh tertidur.
Mungkin ini hanya kesepian, akunya dalam hati.

Ini memang kesepian.
Hatinya menjawab, datar.
Dia menghela napas.
Sekarang dia benar - benar berharap ada orang di sampingnya.
Kamar ini gelap sekali, dingin, sunyi.
Pendingin ruangan menembus kulit dan daging, menusuk tulang, semakin mengusir kantuk jauh darinya.
Aroma kebekuan menghambur di pernapasannya.
Setiap dia menghirup satu kubik udara, seakan bisa mendengar suara orang tertawa.
Menertawakan kebodohannya.

Ini satir, atau getir?
Dia tersenyum, mencoba bercanda dengan dirinya sendiri.
Dipandanginya dinding dan langit - langit kamarnya.
Walaupun gulita ia bisa jelas melihat sekat - sekatnya.
Semakin lama sekat - sekat itu semakin mendekat.
Ia merasa terhimpit seketika.
Di antara kesunyian yang kian membelenggunya.
Menarik kakinya agar semakin jauh dari berlabuh.
Mengunci tangannya agar berhenti menggapai.
Hatinya menjerit - jerit ingin bebas, tapi terkatup rapat dengan engsel yang sudah berkarat.

Dia menahan napas.
Dia sadar dia begitu sendirian, tapi tetap saja dia butuh pengakuan.
Diliriknya telepon genggamnya, seperti melirik anjing rabies.
Tangannya menggapai benda tersebut seakan menggapai tongkat estafet dari kejauhan.
Jari - jarinya memencet keypad dengan sangat cepat, tanpa berpikir dan tanpa merasa.
Kamu masih ada? Aku sendirian, sangat kesepian :(
Tanpa berpikir dan tanpa merasa, diimbuhnya satu persatu nama penerima.

Diceknya lagi sebelum dikirimkan.
Tepat sebelum dipencetnya tombol kirim, hatinya seakan tercekat.
Mendadak ia merasa kasihan pada dirinya sendiri.
Tiba - tiba saja ia ingin menangis.
Rasa kesepian dan sendirian yang sudah ditahannya mengaliri pembuluh darah di tubuhnya.
Bermuara di jantungnya yang berdegup semakin kencang, lalu perlahan meluap menggenangi jiwanya.
Direguknya dalam - dalam, dinikmatinya dengan mata terpejam kuat.
Sayang, peluk aku erat.
Bisiknya dalam hati, dicengkeramnya kedua lengannya sendiri.

Ia meringkuk, mencoba mencari kehangatan.
Tapi tak ada apa - apa disana karena ia sudah begitu angkuh.
Diulangnya dalam pikirannya berkali - kali.
Besok, saat matahari datang, semua akan kembali normal.
Semua akan baik - baik saja.
Tepat saat rasa sepi menggelayuti pelupuk matanya, ia jatuh tertidur.
Lelap, pulas, tanpa mimpi.
Padahal berharap ia setengah mati.
Satu hari akan berjumpa lagi dengan si satu hati.
Walau hanya maya semata.


Posted by soapgirlninja at 5:35 PM | in detail
J














"So. How long has it been since the last time we met?"
She smiled at his remark.

"I don't really count."
She replied, her eyes meandering all over the place.

She lied.
She remembered exactly how long has it been without calling out his name.
After 2 years there they were in one table, sitting across each other.
She used stare at him staring at her.

"I remember that this is the place where we first met. You were coy yet very blunt, wide eyed..."
He stared at her reflection on the mirror. He lingered on a thought, then,
"You were so much skinnier back then!"
He burst into laughter and she followed.

It's his laughter that she missed the most.
His muted, yet contagious laughter that helped her endure her days back then.
He put a plug on his laughter and took a deep breath.

"Okay, what is it that brings you to call me?"
He pointed out directly.

"I miss you."
She replied, even more direct.

He lighted his cigarette.
"I don't buy that. You don't just miss someone and make a phone call after 2 years."
With a smoke blown,
"Especially you. I know you."

She frowned.
The first time that line came out of his mouth she blushed and grinning sheepishly.
Now it's just any of those lines, she thought.
She managed to compose a reply though,
"I'm sorry. I just thought I need to see you now."
Lame one.

He leaned closer, his big round eyes delicately lingered on her stare.
"What about?"

She inhaled.
"While we were together, did I do anything to confuse you? You know, things that make you upset?"

He froze, blinked his lids.
"No. From what I remembered, you dismissed things saying that I was the one muddling things up. Right?"

She went on,
"Yes but things just fizzled then. I got confused so many times I think I create all those confusion myself."

He laughed.
She just loved the way he laughed. Loved it so much.
He went,
"You know, you're not confused. Maybe, things just gotten in the way you don't want them to be and you got upset. And then you call it being confused."
He finished his smoke, and his sentence,
"Things just happen. You just have to sweeten the deal," he paused for a breath, "Sweetie..."

She forced a smile.
"Maybe I just have to learn to accept things," she paused for a breath, "And to let go."

He nodded, smiled, got up and went to the counter.
"Your mocha decaf is served."
Placing a cup on the table, close to her hands.

She watched him, every movement he made.
He sorta reminded her of the guy he fell in love with 7 years back.
It was quite a long time ago.
They were different back then.
As the guy matured, she evolved as well.
Love then became a strong and overbearing term, and it decomposed.
They grew apart, although reminiscence would always appeal in any page.

A thought crossed her mind.
The thought that they might've end up together if only they were more patient, passionate, committed...
But they weren't.
She regretted the thought alone with a gulp of her mocha.

As he crossed his legs towards her, she could feel him staring hard at her.
She got up and toted her bag.
Let's not mess up what time had healed.
"I don't drink mocha decaf anymore. Thanks so much for meeting me here."
Posted by soapgirlninja at 4:02 PM | in detail
Bubungan awan bergumul, membentuk barisan.
Cantik dipandang, walau sedikit berantakan.

Si perempuan coba - coba menghitung banyaknya.
Apakah jumlahnya cukup untuk sampai ke sana?

Untuk menghampiri satu hati.
Yang dirindunya setengah mati.

Berharap akan ada ampas yang tersisa.
Sedikitnya hanya agar ia tak lupa suaranya.

Renyah. Resah. Gundah.
Perlahan disekanya pipinya yang basah.


Di sebuah sore yang indah.














*thanks Wury for showing me the way :)*
Posted by soapgirlninja at 2:50 PM | in detail
"Dulu gue jatuh cinta sama suami gue disini..."
Dan matanya menerawang pada satu titik di sebuah masa.
Bibirnya terangkat, menggambarkan sesuatu yang indah.
Kenangan, pastinya.

"Pertama kali kita berciuman disini..."
Imbuhnya lagi, kali ini senyumnya menyeruak, mengontaminasi orang di sekitarnya dengan kecantikannya.

"Waktu itu jam 1 pagi dan mulai turun hujan," Dia mulai melantun, "Dia merapatkan tubuhnya dan menggenggam tangan gue."
Arah matanya bergerak - gerak, sinarnya sebentar meredup sebentar mengilat.
Perempuan yang sedang (dan masih) jatuh cinta itu semakin memancar cita.
Cantik.

"Ah indahnya. Suatu saat nanti gue pasti punya kisah cinta seindah itu."
Sambil berharap, aku melanjutkan.
"Rindu merasakan indahnya kegilaan cinta."

Dia menatap mataku tajam.
"Kegilaan cinta nggak selalu indah. Demikian pula sebaliknya."
Dia mengangkat gelasnya, bersiap untuk menyesap minuman yang ada di dalamnya.
Hanya sepersekian detik, lalu dia berhenti.
"Lagian sepertinya, elo lagi merasakan kegilaan cinta itu deh, darling. Enjoy it."
Diteguknya minumannya hingga gelas tersebut kosong.
I am?
I am...


Hm. Tiba - tiba ingat lagi pada sesuatu.
Half full, half empty. It was full once upon a time, now it's empty.

Hingga satu hari nanti.





Posted by soapgirlninja at 3:57 PM | in detail
Musim Hujan



























Warna biru agak kelabu perlahan memberi jalan pada kuning emas, kilaunya membias di bulir – bulir air yang tak mau pergi dari kaca jendela.
Entah kenapa.
Bulir - bulir itu saling bergayut, saling bertaut, tapi bagai punya kaki yang menjejak di kaca.
Lekat tak bergerak.

“Mikirin apa?”

Si perempuan menoleh.
Berhenti sejenak dari kenikmatannya menonton buliran air.
Lelaki di sebelahnya, yang masih berkeringat dari permainan cinta tadi, bertanya.
Perempuan itu hanya menggeleng, bibirnya tersenyum.
Lelaki itu merapatkan tubuhnya, menggesekkan kulitnya yang masih lembab ke punggung si perempuan, meringkuk lalu berdiam diri.

"Nyaman sekali bersama kamu."

Si perempuan tersenyum saja.
Lelaki itu mendekatkan mukanya ke tengkuk si perempuan, menghirup aromanya, seakan menghangatkan hidungnya.
Perempuan itu mengatupkan kelopak matanya, untuk mengingat setiap detik dari sensasi itu.
Lelaki itu menggeser bibirnya ke tengkuk si perempuan, tangannya merengkuh tubuh si perempuan erat.

Perempuan itu hanya diam.
Menikmatinya selagi bisa.
Lelaki ini bukan miliknya.
Tak akan pernah jadi kepunyaannya.
Getir ia melafal barisan kata - kata itu dalam benaknya.

Matanya nanar menatap buliran air yang saling bergelayut di kaca jendela, seperti lengan lelaki itu yang menggelayuti lengannya.
Suatu saat yang tidak akan lama lagi, buliran air ini menyerah dan melepaskan pegangannya.
Suatu saat buliran air tersebut akan jatuh, karena tak sanggup menahan beban yang ada.
Saling bergelayut bukanlah suatu paksaan, melainkan opsi.
Jatuh, adalah hal yang lain lagi.
Bukan opsi, tapi kondisi.

Buru - buru dilonggarkannya simpulan jari - jari si lelaki pada jemarinya sendiri.
Mungkin jika tidak terlalu ketat, mungkin jika sedikit berjarak... mungkin akan lebih panjang sedikit waktunya.
Jari - jari si lelaki menolak, malah makin menyimpul erat.
Dari belakang kepalanya terdengar suara mendengkur halus.
Sialan, ia tertidur, dongkolnya dalam hati.

Perlahan perempuan itu menggeser tubuhnya menjauh.
Lalu ia bangkit dari ranjang, masih pelan - pelan.
Mengambil sekotak rokok lengkap dengan lighternya dan berjalan menuju beranda.

Ia mengintip dari kaca jendela.
Cuaca luar tampak agak samar, terselubung buliran air hujan yang saling bergumul.
Hati - hati dibukanya pintu kaca itu.
Buliran air sontak bubar seperti kawanan kelinci yang dikejutkan rubah.
Beberapa saling menggapai, ingin tetap melekat dengan sesamanya.
Beberapa berlari - lari sendiri, mungkin sudah lelah dengan kawanannya.

Satu buliran air meluncur lembut di pipinya.
Sudah dari tadi ditahannya.
Terasa hangat, agak sedikit miris, tapi sedikit lega juga.
Perempuan itu terus melangkah ke beranda, tak sekalipun menoleh meskipun sayup suara lelaki itu memanggilnya.

Langit biru agak kelabu menunggunya di luar, mengedipkan mata dengan mesra, seperti sudah mengharapkannya.
Posted by soapgirlninja at 1:03 AM | in detail

Wish I could recite Neruda in glassy rain, with you.
Hey. Wait.
You don't read Neruda and I've actually forgotten what you look like.

So why bother reciting?

























But if I could, I would.
Posted by soapgirlninja at 11:53 PM | in detail

My Photo
Name: soapgirlninja